Malam Ini Akan Terjadi Gerhana Bulan Penumbral, Yaitu Gerhana yang tak Diikuti Shalat Gerhana

Rabu 23 Maret 2016 senja. Apabila Matahari terbenam, atau azan Maghrib sudah berkumandang, layangkanlah pandangan mata kamu ke arah timur. Bila langit cerah atau berbalut sedikit awan, bakal terlihat Bulan mengapung rendah di atas ufuk timur.

Sekilas pandang, kami bakal melihat sebagai Bulan bulat bundar penuh khas purnama. Tetapi sesungguhnya sejak terbit sampai pukul 20:53 WIB nanti, Bulan sedang dalam kondisi gerhana Bulan. Inilah gerhana unik yang bernama resmi Gerhana Bulan Penumbral, alias kadang disebut juga gerhana Bulan samar.




[Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo dalam posting-an di Facebook, Rabu, berkata, "Awal gerhana diprakirakan terjadi pukul 16.40 WIB, puncak gerhana diprakirakan pukul 18.47 WIB, serta akhir gerhana pada pukul 20.53 WIB." - Kompas]

Inilah tipe Gerhana Bulan yang tidak bersahabat bagi telinga kita. Sebab dalam gerhana tipe ini, jangankan menyaksikan Bulan menghilang sepenuhnya bergantikan obyek sangat redup berwarna kemerah-merahan dalam puncak gerhananya, Bulan setengah meredup pun tidak bakal dijumpai.

Nah bagaimana bisa Bulan yang tampak sebagai purnama sesungguhnya sedang mengalami gerhana? Pada dasarnya peristiwa Gerhana Bulan terjadi tatkala tiga benda langit dalam tata surya kami yakni Matahari, Bulan serta Bumi cocok berada dalam satu garis lurus dengan cara tiga dimensi. Alias dalam istilah teknisnya mereka membentuk konfigurasi syzygy. Di tengah-tengah konfigurasi tersebut terletak Bumi. Dampaknya pancaran sinar Matahari yang sewajibnya tiba di paras Bulan terkendalai oleh Bumi. Jadi membikin Bulan tidak memperoleh sinar Matahari yang mencukupi. Atau bahkan tidak memperolehnya sama sekali untuk periode waktu tertentu.






[Ilustrasi posisi bumi, bulan, serta matahari saat gerhana bulan penumbra]

Sebagai imbasnya, Bulan yang sejatinya sedang berada dalam fase Bulan purnama pun temaram atau bahkan sangat redup kemerah–merahan dalam berbagai jam kemudian. Sedikit tidak sama dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan mempunyai wilayah gerhana lumayan luas meliputi lebih dari separuh bola Bumi yang sedang berada dalam suasana malam. Sebab garis tengah Matahari jauh lebih besar ketimbang Bumi, maka Bumi tidak sepenuhnya menghalangi pancaran sinar Matahari yang menuju ke Bulan. Jadi bakal tetap ada bagian sinar Matahari yang lolos walau intensitasnya bertidak lebih. Ini menjadikan wilayah gerhana Bulan pun terbagi ke dalam zona penumbra (bayangan tambahan) serta zona umbra (bayangan utama).

Bila Gerhana Bulan Total serta Gerhana Bulan Sebagian mudah diidentifikasi dengan cara kasat mata, tidak demikian halnya dengan Gerhana Bulan Penumbral. Dalam pandangan mata kita, kala Gerhana Bulan Penumbral terjadi Bulan bakal tetap terkesan bulat bundar penuh sebagai purnama. Hanya melewati teleskop yang dibekali kamera memadai sajalah fenomena gerhana Bulan samar ini bisa disaksikan.

Indonesia

Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret 2016 hanya terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah awal gerhana alias kontak awal penumbra (P1) yang terjadi pada pukul 16:40 WIB. Sementara bagian kedua adalah puncak gerhana, yang terjadi pada pukul 18:47 WIB. Magnitudo gerhana saat puncak adalah 0,77. Artinya 77 % cakram Bulan pada saat itu tercakup ke dalam bayangan tambahan Bumi. Serta yang terbaru adalah bagian akhir gerhana atau kontak akhir penumbra (P4) yang terjadi pukul 20:53 WIB. Dengan demikian durasi gerhana Bulan samar ini mencapai 4 jam 13 menit.

Tanpa Shalat Gerhana

Meski tidak familiar di telinga kita, tetapi gerhana Bulan samar bukanlah fenomena yang jarang terjadi. Sepanjang 2016 Tarikh Umum (TU) ini bakal terjadi empat gerhana, masing–masing dua gerhana Bulan serta dua gerhana Matahari. Serta seluruh gerhana Bulan di tahun ini adalah gerhana Bulan samar.

Bagi Umat Islam ada anjuran untuk menyelenggarakan shalat gerhana baik di kala terjadi peristiwa Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Tapi faktor tersebut tidak berlaku dalam kejadian Gerhana Bulan Penumbral ini. Musababnya gerhana Bulan samar bisa dikatakan mustahil untuk bisa diindra dengan mata manusia dengan cara langsung. Padahal dasar penyelenggaraan shalat gerhana adalah saat gerhana tersebut bisa dilihat, semacam dinyatakan dalam hadits Bukhari, Muslim serta Malik yang bersumber dari Aisyah RA. Pendapat ini pula yang dipegang oleh dua ormas Islam paling besar di Indonesia, yakni Nahdlatul ‘Ulama serta Muhammadiyah. Keduanya sepakat bahwa saat gerhana tidak bisa disaksikan (secara langsung), maka shalat gerhana tidak dilaksanakan.

[Ketrangan Foto tertinggi: Bulan saat mengalami fase gerhana penumbral (kiri) serta purnama pasca gerhana (kanan), diabadikan dengan teleskop yang terangkai kamera dalam peristiwa Gerhana Bulan 4 April 2015 silam. Nampak Bulan sedikit menggelap di aspek kanan atasnya pada saat fase penumbral terjadi. Dengan cara kasat mata penggelapan ini tidak teramati. Sumber: Sudibyo, 2016.]


*Dikutip dari: https://ekliptika.wordpress.com/2016/03/23/gerhana-bulan-penumbral-23-maret-2016-gerhana-yang-tak-diikuti-shalat-gerhana/

sumber

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel